Demisioner Presiden Mahasiswa BEM Universitas PGRI Palembang Tahun 2025, Wirandi, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus sebagai ruang akademik seharusnya menjadi tempat yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan penyelesaian persoalan melalui dialog.
“Dunia pendidikan semestinya mengedepankan musyawarah, bukan menciptakan rasa takut bagi mahasiswa yang menyampaikan aspirasi,” ujar Wirandi dalam keterangannya.
Ia mengaku kecewa terhadap sikap pihak universitas maupun yayasan yang menurutnya belum mampu menciptakan ruang komunikasi yang sehat dengan mahasiswa. Wirandi juga menduga adanya praktik intimidasi yang melibatkan pihak-pihak di luar sivitas akademika dalam dinamika penyampaian aspirasi mahasiswa. Dugaan tersebut, menurutnya, perlu mendapatkan perhatian serius dan ditelusuri melalui mekanisme yang berlaku.
“Kami berharap seluruh persoalan dapat diselesaikan secara bermartabat tanpa intimidasi maupun tindakan yang berpotensi mengganggu kebebasan akademik. Jika memang terdapat dugaan keterlibatan pihak luar dalam menghalangi penyampaian aspirasi mahasiswa, hal itu perlu diklarifikasi secara terbuka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak menginginkan konflik berkepanjangan, melainkan menginginkan kepastian terhadap berbagai persoalan yang berkembang di lingkungan kampus serta adanya komitmen dari pimpinan universitas dan yayasan untuk membangun tata kelola yang lebih transparan.
Dalam beberapa hari terakhir, mahasiswa Universitas PGRI Palembang juga menggelar aksi unjuk rasa dengan berbagai tuntutan, mulai dari pembenahan fasilitas pendidikan, transparansi kelembagaan, hingga pembukaan ruang dialog antara mahasiswa dan pimpinan universitas. Aksi tersebut bahkan diwarnai penyegelan simbolis kantor rektorat setelah mahasiswa menyatakan kecewa karena pimpinan kampus tidak menemui massa aksi.
Wirandi berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan mengedepankan penyelesaian secara demokratis demi menjaga marwah institusi pendidikan.
“Kampus adalah rumah intelektual. Perbedaan pendapat seharusnya dijawab dengan argumentasi dan dialog, bukan dengan tindakan yang berpotensi menimbulkan intimidasi. Kami ingin Universitas PGRI Palembang kembali menjadi ruang yang aman, kritis, dan berpihak pada nilai-nilai akademik.”
Hingga rilis ini disusun, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak rektorat maupun yayasan terkait pernyataan Wirandi mengenai dugaan intimidasi dan keterlibatan pihak luar. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak yang disebutkan sesuai prinsip pemberitaan yang berimbang.


