Peristiwa bermula saat istri Samosir menjalani operasi caesar di RS Permata Hati Duri pada Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Usai dilahirkan, keluarga melihat kondisi bayi tidak normal, dengan tanda-tanda tubuh membiru dan mengalami sesak napas.
“Saya lihat anak saya sudah membiru, tapi petugas bilang tidak apa-apa. Dua hari kemudian kondisinya justru semakin kritis,” ujar Samosir kepada media, Selasa (20/1/2026).
Menurut keluarga, mereka sempat meminta agar bayi dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Namun permintaan tersebut ditolak dengan alasan keterbatasan fasilitas medis. Proses rujukan baru dilakukan pada Jumat sore, saat kondisi bayi dilaporkan sudah dalam keadaan kritis.
Setibanya di RS Awal Bros Pekanbaru, tim medis menyatakan kondisi bayi sangat berat.
Setelah menjalani penanganan selama kurang lebih dua jam, bayi tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Kekecewaan keluarga semakin bertambah setelah muncul dugaan permintaan biaya ambulans sebesar Rp1,5 juta untuk pemulangan jenazah bayi dari Pekanbaru ke Duri.
“Kami merasa tidak ada tanggung jawab. Anak kami sudah meninggal dunia, tapi kami masih dibebankan biaya ambulans,” kata Samosir.
Saat dikonfirmasi, Kepala Bagian Humas dan Marketing RS Permata Hati Duri, Maspal Yopi, SKM, menyampaikan bahwa pihak rumah sakit belum dapat memberikan keterangan dan akan melakukan audit internal terkait kejadian tersebut.
Tim media juga telah mengirimkan sejumlah pertanyaan resmi kepada manajemen RS Permata Hati Duri melalui pesan WhatsApp pada Selasa (20/1/2026). Pertanyaan tersebut mencakup kronologis penanganan pasien, tindakan medis sesuai SOP, proses rujukan, dugaan kendala teknis, serta isu permintaan biaya ambulans. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban resmi yang diberikan.
Atas kejadian ini,
keluarga Samosir meminta Bupati Bengkalis melalui Dinas Kesehatan untuk turun tangan mengusut tuntas dugaan kelalaian serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan RS Permata Hati Duri, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.


